Selasa, 23 Juli 2019

Sang Buddha Gautama


Sang Buddha Gautama



Sang Buddha merupakan Raja Dunia yang mengetahui Semua hal Tentang kehidupan. Ia Seperti orang yang telah terlepas dari tidur lelapnya yang membuatnya mengetahui tentang lingkaran kehidupan dan Proses Hukum Karma.

Kelahiran Bodhisattva Kedunia untuk Yang Terakhir Kalinya




Sang Buddha Gautama Lahir di Taman Lumbini pada saat Ibunya ingin Berjalan-jalan di Taman Tersebut. Ibunya merupakan Seorang Ratu yang bernama Ratu Mahamaya dan memiliki Suami yang bernama Raja Suddhodana. Dan Pangeran Bodhisattva dilahirkan dengan ibunya memegang Pohon Sala. Dengan Bantuan Para Dewa, Pangeran Siddharta telah dilahirkan kedunia. Pada Saat ia Dilahirkan Ia berjalan Tujuh Langkah ke Arah Utara. Setelah Kejadian Tersebut Ia membawa Pangeran Siddharta ke Kerajaan Kapillavathu.



Kebahagian dan Kesedihan Petapa Asita

Kelahiran Sang Pangeran membawa kebahagiaan bagi seluruh kerajaan termasuk seorang petapa bernama Asita yang dikenal juga sebagai Kāladevala yang merupakan guru pribadi raja. Petapa Asita segera berkunjung ke istana Raja Suddhodana di ibu kota Kapilavatthu untuk melihat pangeran kecil tersebut.

Ketika Petapa Asita telah tiba dan melihat adanya 32 tanda dari seorang Manusia Agung (Mahāpurisa) pada bayi tersebut, ia memberikan penghormatan kepada-Nya. Melihat sang guru kerajaan yang seharusnya mendapatkan penghormatan dari seluruh rakyat kerajaan termasuk raja, tetapi justru memberi penghormatan kepada Sang Pangeran, Raja pun turut memberi penghormatan kepada putranya.

Setelah itu Petapa Asita tertawa gembira karena bahagia sebab Pangeran kelak akan menjadi seorang Buddha. Tetapi kemudian ia menangis karena bersedih sebab usianya yang sudah tua membuat ia tidak bisa menunggu bayi tersebut dewasa hingga menjadi seorang Buddha dan membabarkan ajaran-Nya.


WAFATNYA RATU MAHĀMĀYĀ

Pada hari ketujuh setelah melahirkan Pangeran Siddhattha , Ratu Mahāmāyā wafat, dan adiknya Mahāpajāpatī Gotamī yang juga istri Raja Suddhodana menggantikan posisi Ratu Mahāmāyā sebagai ratu sekaligus ibu bagi pangeran kecil. Dari hubungan Raja Suddhodana dengan Mahāpajāpatī Gotamī melahirkan seorang pangeran bernama Nanda dan seorang putri bernama Sundari Nanda (Rupananda).

Mahāpajāpatī Gotamī merawat Pangeran Siddhattha seperti merawat putranya sendiri, Pangeran Nanda. Pangeran Nanda sendiri lahir beberapa hari setelah Pangeran Siddhattha lahir.

Setelah Ratu Mahāmāyā wafat, ia dilahirkan menjadi seorang putra dewa dengan nama Māyādevaputta (Santusita) di surga Tusita .



WELAS ASIH SANG PANGERAN

Sifat welas asih Pangeran Siddhattha tercermin dalam kehidupan sehari-hari-Nya seperti menghentikan dan menasihati seorang pelayan-Nya yang sedang memukuli seekor ular dengan 
tongkat.

Pada kesempatan lainnya, ketika pangeran sedang beristirahat di bawah pohon dalam waktu bermainnya bersama sahabat-sahabat-Nya dan juga sepupunya, Pangeran Devadatta, Ia tiba-tiba melihat seekor angsa jatuh dari angkasa. Ia tahu bahwa Pangeran Devadatta telah memanah angsa tersebut. Dengan segera Pangeran Siddhattha menolong angsa tersebut. Pangeran Devadatta juga mengejar angsa itu, namun Pangeran Siddhattha berhasil terlebih dulu mengambil angsa itu dan dengan lembut Ia menarik anak panah yang menusuk angsa tersebut serta memberikan obat pada lukanya.

Pangeran Devadatta yang baru saja tiba menuntut agar unggas itu diserahkan kepadanya, namun Pangeran Siddhattha menolaknya. Akhirnya terjadilah perselisihan dan saling debat. Pangeran Devadatta bersikukuh bahwa angsa itu adalah miliknya karena ia yang memanahnya. Sedangkan Pangeran Siddhattha mengatakan bahwa Ia yang berhak atas angsa itu karena Ia telah menyelamatkan hidupnya, sedangkan si pemanah tidak berhak akan angsa yang masih hidup tersebut. Akhirnya Pangeran Siddhattha mengusulkan agar permasalahan ini dibawa ke mahkamah para bijak untuk memperoleh jawaban atas siapa yang berhak atas angsa tersebut.



Pernikahan Pangeran Siddharta

Pada saat itu tahun 607 SEU (547 SEU) atau tahun 64 SEB, Pangeran Siddhattha berusia enam belas tahun, Ia tumbuh sebagai seorang pria muda yang tampan dan perkasa. Dan perangai-Nya yang suka merenung serta welas asih-Nya yang tanpa batas semakin jelas. Hal ini sangat membuat raja khawatir dan memanggil para penasihat istana untuk menemukan jawaban agar sang pangeran tetap mewarisi singgahsananya daripada menjadi seorang Buddha. Dan akhirnya diputuskan untuk mencari gadis tercantik dan menikahkannya dengan pangeran. Kemudian Raja Suddhodana memerintahkan untuk mengirim berita kepada delapan puluh ribu kerabat Sakya-nya dan meminta mereka untuk memperkenankan putri-putri mereka untuk datang ke istana agar pangeran dapat memilih salah satunya sebagai istri.

Berita pemilihan istri tersebut ditanggapi negatif oleh para pangeran Sakya yang beranggapan bahwa Pangeran Siddhattha tidak memiliki kemampuan sebagai seorang ksatria dan seorang pengecut yang tidak memiliki kemampuan seni bela diri dan seni berburu untuk melindungi dan mencari nafkah keluarganya kelak. Menanggapi hal ini Raja Suddhodana merasa sangat tersinggung dan menemui putranya serta menceritakan permasalahannya. Pangeran lalu berkata bahwa Ia akan mempertunjukkan kemahiran-Nya dalam pertandingan apapun, termasuk panahan dihadapan semua pangeran dan putri Sakya.

Dalam pertandingan, Pangeran Siddhattha akhirnya dapat mengalahkan semua lawannya dalam segala pertandingan. Dengan ini para pangeran dan putri Sakya akhirnya bergembira mengetahui hasilnya, sekaligus merasa tegang siapa yang akan dipilih pangeran untuk menjadi istri-Nya. Akhirnya pilihan Pangeran Siddhattha jatuh pada Putri Yasodharā, sepupu-Nya yang cantik, putri dari Raja Suppabuddha dari kerajaan Koliya dan Ratu Amita, saudara perempuan Raja Suddhodana.


MELIHAT PENAMPAKAN PERTAMA: ORANG TUA

Pada tahun 535 S.E.U (595 S.E.U) atau tahun 52 S.E.B, memasuki usia-Nya yang kedua puluh delapan tahun, Pangeran Siddhattha tidak lagi merasa senang akan segala kemewahan dan hiburan di sekeliling-Nya. Ia menjadi jenuh dan ingin melihat dunia luar. Ia merasa penasaran untuk mengetahui kehidupan rakyat dan hal-hal di luar tembok istana. Setelah mendapatkan ijin dari ayah-Nya, Ia akhirnya keluar istana ditemani oleh Channa, kusir-Nya. Orang-orang ramai berdiri di kedua sisi jalan dan menyambut-Nya dengan hangat. Semuanya terasa semarak dan indah karena telah diperintahkan oleh raja untuk menyingkirkan hal-hal yang buruk dari tempat yang akan dilalui oleh pangeran.


Namun tidak lama kemudian, tiba-tiba seorang lelaki tua melintas di sepanjang jalan tanpa sempat dicegah. Sang pangeran sangat terkejut dengan apa yang tampak oleh-Nya. Ia sangat terkesima dan tidak mengetahui apa yang tengah dilihat-Nya, dan Ia bertanya kepada kusir-Nya, Channa, apa yang telah dilihatNya itu. Channa menjelaskan bahwa itu disebut dengan orang tua, orang yang tidak akan hidup lama lagi, dan semua orang tanpa kecuali akan mengalami hal itu tanpa bisa dicegah. Pangeran Siddhattha segera memerintahkan Channa untuk kembali ke istana karena Ia menjadi tidak bergairah lagi untuk berkeliling kota . Ia sangat sedih dan terguncang pikirannya oleh apa yang dilihat-Nya. Ia berpikir bahwa diri-Nya sendiri, istri-Nya, ayah-Nya, ibu angkat-Nya, dan semua orang yang dicintai-Nya akan menjadi tua. Ia ingin tahu apakah ada yang bisa mencegah dan mengatasi usia lanjut ini.



MELIHAT PENAMPAKAN KEDUA: ORANG SAKIT

Empat bulan kemudian, Pangeran Siddhattha sekali lagi memohon kepada ayah-Nya untuk keluar istana. Namun Ia tidak ingin kunjungannya diumumkan atau dipersiapkan karena Ia ingin melihat segala hal, termasuk kehidupan sehari-hari rakyat-Nya. Raja Suddhodana mengijinkan-Nya dengan berat hati karena masih merasa gundah terhadap apa yang terjadi selama kunjungan pertama pangeran. Namun, karena cinta dan kasihnya kepada putranya, ia mengijinkan pangeran melakukan kunjungan untuk kedua kalinya.



Hari kunjungan pun tiba. Ditemani oleh Channa, pangeran menyamar sebagai pemuda dari keluarga bangsawan. Ia berjalan kaki melihat-lihat kehidupan rakyatnya secara apa adanya. Tidak ada penyambutan, panji-panji ataupun penebaran bunga. Semua rakyat sibuk dengan pekerjaannya sendiri untuk mencari penghidupan. Namun ketika Ia tengah berjalan, tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki yang menangis tersedu-sedu karena kesakitan. Pangeran mencari sumber suara itu dan menemukan seorang lelaki yang sedang berbaring di tanah sambil memegang perutnya dan berguling-guling kesakitan, wajahnya penuh dengan noda-noda hitam. Ia berusaha memohon pertolongan, tetapi tidak ada yang memperdulikannya, sebaliknya orang-orang menghindarinya. Melihat hal ini pangeran merasa terguncang untuk kedua kalinya. Dengan penuh welas asih pangeran segera mendekati orang itu, tanpa bisa dicegah oleh Channa. Pangeran yang memangku kepala orang itu berusaha menenangkan dan bertanya apa yang terjadi, namun tanpa sepatah katapun keluar dari mulut orang itu. Akhirnya pangeran bertanya kepada Channa apa yang telah terjadi. Dan Channa pun menjawab bahwa orang itu sedang sakit dan semua orang tanpa kecuali akan mengalami hal itu. Mendengar hal itu, Pangeran Siddhattha sangat sedih mengetahui semua fenomena duniawi ini. Lalu, bersama dengan Channa , Ia kembali ke istana karena tidak lagi bersemangat meneruskan kunjungan-Nya.




MELIHAT PENAMPAKAN KETIGA: ORANG MATI

Dengan menikmati kesenangan dan kemewahan hidup istana setelah kunjungan kedua, perasaan desakan spiritual yang dirasakan-Nya menjadi sedikit berkurang. Tetapi sekitar empat bulan kemudian, Pangeran Siddhattha kembali memohon untuk keluar dari istana untuk melihat kotanya kembali lebih dekat. Dengan berat hati raja pun mengijinkannya.

Seperti halnya kunjungan kedua, pangeran menyamar sebagai pemuda dari keluarga bangsawan dan juga ditemani oleh Channa yang juga berpakaian berbeda untuk menyembunyikan identitasnya. Di tengah perjalanan, tampak oleh-Nya iring-iringan orang tiba di jalan. Orang-orang tersebut mengusung sebuah tandu yang di dalamnya terdapat seorang lelaki kurus kering terbujur kaku dan ditutupi sehelai kain serta diiringi oleh orang-orang yang menangis. Merasa heran, pangeran bertanya kepada Channa mengenai orang yang terbaring di dalam tandu tersebut. Channa pun menjelaskan bahwa orang itu telah mati, semua orang pasti akan mati tanpa terkecuali.



Pemandangan yang tidak menyenangkan ini terjadi tanpa seorang pun mampu untuk mencegahnya. Pemandangan ini sungguh menyentuh hati pangeran selama kunjungan-Nya yang ketiga itu. Pangeran Siddhattha tidak lagi bergairah meneruskan kunjungan-Nya. Diiringi oleh Channa, dengan diam Ia kembali ke istana dan memasuki kamar-Nya sendirian. Ia duduk dan merenungkan dalam-dalam apa yang baru saja dilihat-Nya. Dalam hati Ia berkata: “Alangkah mengerikannya! Setiap orang kelak akan mati dan tak seorang pun mampu mencegahnya. Harus ada cara untuk mengatasi hal ini. Akan Kucari cara agar ayah, ibu, Yasodharā, dan semua kerabat-Ku yang tercinta tak akan pernah menjadi tua, sakit, dan mati.”



MELIHAT PENAMPAKAN KEEMPAT: PETAPA

Pangeran Siddhattha lebih sering menyendiri dan merenungkan ketiga pemandangan yang telah dijumpai-Nya selama berkunjung ke kota . Namun, karena merasa belum puas dengan apa yang telah Ia ketahui sekarang, Ia menjadi sangat penasaran ingin mengetahui lebih lanjut sisi lain kehidupan, yang mungkin belum pernah dilihat-Nya. Sementara itu Raja Suddhodana senantiasa berusaha menyenangkan dan mengalihkan pikiran pangeran dari ketiga peristiwa tersebut. Untuk beberapa bulan, usaha raja nampak berhasil. Tetapi sifat ingin tahu dan suka merenung dari pangeran tidak mudah tergoyahkan oleh sumua hiburan yang ada dalam istana. Dan Empat bulan kemudian, Ia kembali memohon kepada ayah-Nya untuk diperkenankan keluar istana lagi untuk berwisata ke taman kerajaan dan melihat sisi lain dari kehidupan. Raja tidak memiliki alasan apapun untuk menolak permohonan santun putranya itu.


Ditemani oleh Channa, pangeran menuju taman istana melalui Kota Kapilavatthu. Setelah sampai di taman dan ketika pangeran tengah duduk dan menikmati taman tersebut, tampak oleh-Nya seorang lelaki dengan kepala yang dicukur bersih datang dari kejauhan. Dan pangeran pun bertanya kepada Channa siapakah orang itu. Channa menjawab bahwa oran itu adalah seorang petapa, seseorang yang meninggalkan kehidupan berkeluarga. Pangeran merasa terdorong untuk mengetahui lebih lanjut siapa petapa itu. Bagi-Nya, petapa itu tampak mengagumkan dan mulia, tidak seperti orang lainnya. Pangeran yang merasa tidak puas dengan jawaban Channa, mendekati petapa itu dan bertanya mengenai diri petapa tersebut. Petapa itu pun menjelaskan prihal dirinya.


Kamis, 18 Juli 2019

Teknologi


Apa itu Teknologi??




Sebelum itu kita harus mengetahui Apa yang dimaksud dengan teknologi (technology)? Secara umum, pengertian teknologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang keterampilan dalam menciptakan alat, metode pengolahan, dan ekstraksi benda, untuk membantu menyelesaikan berbagai permasalahan dan pekerjaan manusia sehari-hari.



Seperti Apakah Perkembangan Teknologi Di Era Globalisasi?


Asus ROG GL503GE















Dari segi desain sepertinya tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok dari versi sebelumnya. Namun karena ini versi 15.6-inch, maka laptop gaming ini terlihat lebih ramping. Untuk desain pada Hero Edition ini, ASUS menambahkan sedikit corak unik yang berbeda sebagai identitas laptop gaming yang di tergetkan untuk gamer yang bergelut di game MOBA. Selain sedikit corak yang diberikan, ASUS memberikan warna hitam glossy pada ROG Strix GL503GE Hero ini.


Masuk pada bagian konektivitas, laptop gaming ini juga sudah dibekali dengan fitur yang cukup lengkap untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Dibagian kiri terdapat slot MicroSD, 2x USB 3.1, USB Type C, serta Kensington Lock. Dibagian kanan, terdapat colokan power, RJ45, mini Display port, HDMI, 2x USB 3.1, serta audio jack. Sementara di bagian atas keyboard dan belakang terdapat exhaust untuk mengeluarkan udara panas.


Mac Book PRO

Ada dua versi dari MacBook Pro 2019, satu berukuran 13 inci dan satu lagi berukuran 15 inci. Laptop ini mempertahankan fitur Touch Bar seperti pendahulunya, tetapi kedua versi ini hadir dengan perubahan yang halus tetapi diperlukan.


Wccftech (22/5/2019) melaporkan, Apple telah memasukkan Butterfly switch generasi ke-4, menjanjikan pengalaman mengetik yang lebih baik. Perusahaan asal Cupertino ini juga menjanjikan keandalan yang lebih baik dalam jangka panjang.

                                       
Apple menyatakan bahwa MacBook Pro 2019 memiliki kecepatan kinerja dua kali lipat daripada MacBook Pro yang dilengkapi prosesor quad-core, dan kinerja 40 persen lebih tinggi daripada mesin yang memiliki CPU 6 core. Di sisi layar, Apple juga menyatakan bahwa laptop ini akan memiliki tampilan terbaik pada notebook Mac. Kali ini, mereka berhasil menjejalkan layar dengan kecerahan 500 nits, mendukung gamut warna P3 wide, dan teknologi True Tone.


IPhone Xs Max




                                 
Sebagaimana varian iPhone XS, pada flagship Max series ini hadir dengan tetap mengusung konsep bezelless edge-to-edge dan notch alias poni di bagian depan serta kamera utama ganda (wide dan telefoto).


Secara eksterior, iPhone XS Max tampak elegan dengan menggunakan bahan stainless steel kokoh dengan mengusung sebuah konsep “Surgical Grade”, yang diklaim tahan banting.



Sementara itu, pada sektor depan dari iPhone XS Max sudah dibalut dengan material kaca yang sangat kokoh, sehingga membuat kualitas dan keawetan yang dimiliki oleh iPhone XS Max tetap terjaga dengan baik.


Bobot iPhone XS Max ini disumbang oleh ukuran layar jumbo seluas 6,5 inchi, dengan teknologi Dolby Vision dan HDR10, yang juga menjadi panel iPhone terbesar sejauh ini. Ukuran layar iPhone XS Max menjadi gebrakan baru bagi Apple dalam tradisinya, yang khas dengan ukuran layar kecil.


Bicara soal layar, iPhone XS Max mengandalkan resolusi 1242 x 2688 pixels, dengan panel Super AMOLED yang mampu memberikan sebuah tampiln visual yang tajam dan atraktif.




Bahkan, pelindung Scatch Resistant Glass dan Oleophobic Coating di bagian belakang pun menjadi proteksi yang sangat berkualitas pada spesifikasi iPhone XS Max di sektor bodinya.



iPhone XS Max tersedia dalam tiga varian warna, yakni Gold, Silver, dan Gray. Salah satu peningkatan dari seri sebelumnya adalah sertifikasi anti-air dan anti-debu yang meningkat menjadi IP68.

Alat-alat ini merupakan Teknologi Tercanggih Pada saat ini yang membuat para pengguna Teknologi terbayang-bayang akan kecanggihannya dan lebih efisien untuk melakukan pekerjaan lebih mudah.


"Manusialah Yang Mengatur Teknologi,Bukan Teknologi Yang Mengatur Manusia"